A.KEHIDUPAN
MASYARAKAT BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN
1.
Lingkungan Alam Kehidupan
Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini
sangat sederhana. Kehidupan mereka tak ubahnya seperti hewan karena sangat
tergantung pada alam. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia
tinggal di alam terbuka seperti hutan, tepi sungai, gunung, goa-goa, dan
lembak-lembah karena belum stabil dan masih liar alam terbuka itu. Manusia
cenderung melakukan perjalanan dengan menyusuri aliran sungai dan akhirnya
manusia menemukan rakit.
2. Kehidupan
Sosial
Masyarakat pada berburu dan mengumpulkan makanan sudah
mengenal kelompok. Dalam kelompok terdiri dari 10-15 orang. Apabila persediaan
makanan di hutan menipis mereka berpindah ketempat yang lain. Hubungan mereka
sangat erat, satu sama lain saling membantu dan saling tolong menolongdari
serangan binatang buas , dll. Dan masing-masing kelompok mempunyai pemimpin
yang sangat disegani.
3. Kehidupan
Budaya
Pada masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan manusia
tinggal di goa-goa. Mereka mulai membuat alat-alat berburu, alat pemotong, alat
penggembur tanah, dan lainnya. Para ilmuan menafsirkan jenis manusia tersebut
adalah Pithecanthopus dan kebudayaannya disebut Paleolitikum (batu tua)
·
Benda-benda
hasil kebudayaan pada zaman tersebut :
a. Kapak Perimbas
Ciri-ciri : tidak memilikki
tangkai, digunakan dengan cara menggenggam.
Ket : Diteliti oleh Von Koenigswald (1935) di
Pacitan.
b. Kapak Penetak
Cirri-ciri : bentuknya
hamper sama dengan kapak perimbas, hanya saja bentuk lebis besar dan tekstur
masih kasar.
Ket : Ditemukan di
seluruh wilayah Indonesia.
c. Kapak Genggam
Cirri-ciri : bentuk hamper
sama dengan kapak perimbas dan kapak petenak, tapi bentuknya lebis kecil,
teksturnya sederhana dan di asah.
Ket : ditemukan di
seluruh Indonesia dan cara pemakaiannya digenggam pada ujungnya yang lebih
kecil.
d. Pahat Genggam
Cirri-ciri : bentuk lebih
kecil dari pahat genggam.
Ket : untuk
menggembur tanah, mencari ubu-ubian.
e. Alat Serpih
Cirri-ciri : Bentuk sangat
sederhana
Ket : digunakan
sebagai pisau, gurdi, alat penusuk.
f. Alat-alat dari Tulang
Cirri-ciri : dibuat dari
tulang-tulang hewan buruan dan dibuat pisau, belati, mata tombak, mata panah,
dll. (banyak ditemukan di Ngandong).
4.
Kehidupan Ekonomi Masyarakat
Dengan hidup berkelompok (10-15 orang) mereka bekerja sama
demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika kebutuhan hidupnya sudah menipis maka
mereka akan berpindah tempat.
5. Kehidupan
Kepercayaan Masyarakat
Penemuan kuburan pada era tersebut membuktikan bahwa mereka
mereka memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan terakhir kepada
orang yang telah meninggal, menyebabkan manusia sudah lebih tinggi dari tingkat
makhluk hidup yang lainnya. Serta mereka sedah memiliki akal pikiran (walaupun
terbatas). Dengan penguburan terhap orang yang sudah meninggal, kepercayaan
tentang adanya hubungan antara orang yang sudah meninggal dan masih hidup sudah
diyakini.
B. KEHIDUPAN
MASYARAKAT BERTERNAK DAN BERCOCOK TANAM
1. Lingkungan
Alam Kehidupan
Kemampuan manusia untuk mempertahankan kehidupannya mulai
berkembang. Hal ini mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok manusia dalam
jumlah yang lebih banyak serta menetap di suatu tempat. Manusia mulai hidup
dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis-jenis tanaman yang semula tumbuh
liar untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu, mereka mulai
menjinakkan hewan-hewan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti kuda,
anjing, kerbau, sapi, dan babi. Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali di
kenal manusia adalah berhuma (tekhin bercocok tanam dengan cara membersihkan
hutan dan menanamnya, setelah tanah tidak subur mereka pindah dan mencari
bagian hutan yang lain.
2. Kehidupan
Sosial
Kehidupan pada masyarakat bercocok tanam mengalami
peningkatan yang cukup pesat. Eratnya hubungan antar manusia didalam kelompok
masyarakat merupakan cermin manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan
dari orang lain. Kehidupan sosial dalam masyarakat bercocok tanam ini terlihat
lebih jelas melalui cara bekerja dengan bergotong royong. Dalam perkembangannya,
pada pola hidup menetap telah membuat hubungan sosial masyarakat terjalin dan
terorganisasi dengan lebih baik. Dalam perkumpulan masyarakatyang sederhana
biasanya terdapat seorang pemimpin yang disebut kepala suku.
3. Kehidupan
Ekonomi
Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya masing masing
diadakan pertukaran barang dengan barang ( system barter). Pertukaran barang
dengan barang ini awal muncul system perdagangan
atau system perekonomian dalam masyarakat. Dan untuk memperlancar kegiatan
perdagangan, dibutuhkan suatu tempat khusus yang dapat dijadikan tempat
pertemuan antar pedagang dan pembeli, tempat itu dikenal dengan pasar. Dalam perkembangannya,
pola dan bentuk perdagangan serta pasar terus mengalami perubahan dan
peningkatan.
4. Sistem
Kepercayaan Masyarakat
Perkembangan system kepercayaan masyarakat pada kehidupan
bercocok tanam dan menetap, merupakan kelanjutan kepercayaan yang telah ada
sejak pada masa kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan. Inti kepercayaan
ini berkembang dari zaman ke zaman. Serta penghormatan dan pemujaan roh nenek moyangmerupakan suatu kepercayaan yang berkembang di
seluruh dunia.
5. kehidupan
Budaya
Perkembangan budaya pada masa bercocok tanam semakin bertambah
pesat, Karen manusia mulai dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan
kebudayaan yang lebih baik.
Hasil-hasil kebudayaannya adalah :
·
Beliung
persegi
·
Kapak
lonjong
·
Mata
panah
·
Gerabah
6. Perhiasan
Pada
masa kehidupan masayrakat bercocok tanam telah dikenal berbagai bentuk
perhiasan. Bahan dasar pembuatan perhiasaan diambil dari bahan-bahan yang ada
di sekitar lingkungan alam tempat tinggalnya. Dari bahan-bahan itu masyarakat
membuat perhiasan seperti kalung, gelang dan lain lain. Selain perhiasan , pada
masa bercocok tanam ini juga berkembang kebudayaan yang terbentuk dari batu
batu besar. Bangun-bangunan megalitikum ini dibangun berdasarkan kepercayaan
tentang adanya hubunagn antar alam fana dengan alam baka. Wujud bangunan
megalitikum diantaranya sebagai berikut :
·
MENHIR è tugu batu
tempat pemujaan roh-roh nenek moyang.
·
WARUGAè kubur batu yang
terbentuk kubus dan bulat.
·
DOLMENè meja batu
tempat meletakan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang.
·
PUNDEN BERUNDAK-UNDUKè
bangunan suci tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dibut dalam bentuk
bertingkat.
·
SARKOFAGUSè peti jenazah
yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal).
·
KUBUR
BATUè
peti jenazah yang terbuat dari baja pipih.
·
ARCAè Arca dari masa
megalitikum yang menggambarkan binatang dan manusia.
C. PERKEMBANGAN TEKHNOLOGI MASYARAKAT AWAL INDONESIA
1. Keadaan Alam Lingkungan Kehidupan Manusia
Pada
masa ini, manusia telah mengenal tekhnologi, meski tekhnologi itu masih
terbatas pada upaya untuk memenuhi peralatan-peralatan sederhana yang
dibutuhkan dalam aktifitas kehidupannya. Ketika manusia sudah mengenal logam,
manusia sudah dapat menggunakan peralatan-peralatan dari logam, seperti
peralatan rumah tangga, pertanian, perkebunan, dll. Orang yang ahli membuat
alat-alat dari logam disebut undagi dan tempat pembuatan alat-alat disebut
perundiangan.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa seiring dengan mulai dikenalnya logam, pola piker
dan tekhnologi manusia juga berkembang. Dalam hal ini manusia mulai
memanfaatkan alat-alat dari logam untuk membantu upaya memnuhi kebutuhan
hidupnya.
2. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat
Pada
masa manusia sudah mengenal logam dikenal dengan masa perundagian. Masa perundagian
sangat penting artinya dalam perkembangan sejarah Indonesia, karena paa masa ini
terjalin hubungan dengan daerah-daerah sisekitar kepulauan Indonesia. Hubungan
ini terjadi karena bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat alat-alat dari logam
tersedia secara batas ditempat tertentu,
dan untuk memenuhinya maka di butuhkan proses barter.
3. Kehidupan Budaya Masyarakat
Peninggalan-peninggalan
budaya masyarakat Indonesia yang berasal dari benda-benda logammerupakan
kekayaan dan keanekaragaman budaya yang telah tumbuh dan berkembang pada masa
itu. Benda-benda tersebut antara lain :
·
Neraka Perunggu : suatu benda kebudayaan
yang terbuat dari perunggu (bentuknya seperti dandang yang telungkup dan
berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk memohon turunnya hujan dan sebagai gendering
perang)
·
Kapap Perunggu : bentuk kapak perunggu
terbagi menjadi beberapa (ada yang berbentuk pahat, jantung atau tembilang)
·
Bejana Perunggu : bentuknya mirip dengan
gitar sepanyol, tetapi tanpa tangkai.
·
Arca Perunggu :bentuknya beraneka ragam,
seperti menggambarkan orang yang sedang menari, naik kudadan memegang busur
panah.
·
Perhiasan : terbuat dari emas, perunggu
dan besi.
D. SISTEM KEPERCAYAAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA
1. Kepercayaan Terhadap Roh Nenen Moyang
Orang
mulai memiliki suatu pandangan bahwa hidup tidak berhenti setelah orang itu
meninggal. Orang yang meninggal dianggap pergi ketempat yang lebih baik. Orang mulai
berfikir bahwa orang yang meninggal berbeda dengan orang yang masih hidup.
Berdasarkan
hasil peninggalan budaya sejak masa bercocok tanam berupa bangunan-bangunan
megalitikum dengan fungsinya sebagai tempat-tempat pemujaan atau penghormatan
kepada roh nenek moyang, maka di ketahui bahwa masyarakat pada masa itu sudah
menghormati dan sudah orang yang sudah meninggal.
2. Kepercayaan Bersifat Animisme
Animism
merupakan suatu kepercayaan mesyarakat terhadap suatu benda yang dianggap
memiliki roh atau jiwa.
3. Kepercayaan Bersifat Dinamisme
Dinamisme
merupakan suatu kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib.
4. Kepercayaan Bersifat Monoisme
Kepercayaan
monoisme adalah kepercayaan terhadap tuhan yang maha esa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar