Kamis, 19 Januari 2012

KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA


A.KEHIDUPAN MASYARAKAT BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN
1. Lingkungan Alam Kehidupan
            Kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan ini sangat sederhana. Kehidupan mereka tak ubahnya seperti hewan karena sangat tergantung pada alam. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia tinggal di alam terbuka seperti hutan, tepi sungai, gunung, goa-goa, dan lembak-lembah karena belum stabil dan masih liar alam terbuka itu. Manusia cenderung melakukan perjalanan dengan menyusuri aliran sungai dan akhirnya manusia menemukan rakit.
2. Kehidupan Sosial
            Masyarakat pada berburu dan mengumpulkan makanan sudah mengenal kelompok. Dalam kelompok terdiri dari 10-15 orang. Apabila persediaan makanan di hutan menipis mereka berpindah ketempat yang lain. Hubungan mereka sangat erat, satu sama lain saling membantu dan saling tolong menolongdari serangan binatang buas , dll. Dan masing-masing kelompok mempunyai pemimpin yang sangat disegani.
3. Kehidupan Budaya
            Pada masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan manusia tinggal di goa-goa. Mereka mulai membuat alat-alat berburu, alat pemotong, alat penggembur tanah, dan lainnya. Para ilmuan menafsirkan jenis manusia tersebut adalah Pithecanthopus dan kebudayaannya disebut Paleolitikum (batu tua)
·        Benda-benda hasil kebudayaan pada zaman tersebut  :
a.     Kapak Perimbas
Ciri-ciri  : tidak memilikki tangkai, digunakan dengan cara menggenggam.
Ket          : Diteliti oleh Von Koenigswald (1935) di Pacitan.
b.     Kapak Penetak
Cirri-ciri          : bentuknya hamper sama dengan kapak perimbas, hanya saja bentuk lebis besar dan tekstur masih kasar.
Ket                   : Ditemukan di seluruh wilayah Indonesia.

c.      Kapak Genggam
Cirri-ciri          : bentuk hamper sama dengan kapak perimbas dan kapak petenak, tapi bentuknya lebis kecil, teksturnya sederhana dan di asah.
Ket                   : ditemukan di seluruh Indonesia dan cara pemakaiannya digenggam pada ujungnya yang lebih kecil.

d.     Pahat Genggam
Cirri-ciri          : bentuk lebih kecil dari pahat genggam.
Ket                   : untuk menggembur tanah, mencari ubu-ubian.

e.     Alat Serpih
Cirri-ciri          : Bentuk sangat sederhana
Ket                   : digunakan sebagai pisau, gurdi, alat penusuk.

f.       Alat-alat dari Tulang
Cirri-ciri          : dibuat dari tulang-tulang hewan buruan dan dibuat pisau, belati, mata tombak, mata panah, dll.  (banyak ditemukan di Ngandong).

4. Kehidupan  Ekonomi Masyarakat
            Dengan hidup berkelompok (10-15 orang) mereka bekerja sama demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika kebutuhan hidupnya sudah menipis maka mereka akan berpindah tempat.

5. Kehidupan Kepercayaan Masyarakat
            Penemuan kuburan pada era tersebut membuktikan bahwa mereka mereka memiliki anggapan tertentu dan memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal, menyebabkan manusia sudah lebih tinggi dari tingkat makhluk hidup yang lainnya. Serta mereka sedah memiliki akal pikiran (walaupun terbatas). Dengan penguburan terhap orang yang sudah meninggal, kepercayaan tentang adanya hubungan antara orang yang sudah meninggal dan masih hidup sudah diyakini.

B. KEHIDUPAN MASYARAKAT BERTERNAK DAN BERCOCOK TANAM
1. Lingkungan Alam Kehidupan
            Kemampuan manusia untuk mempertahankan kehidupannya mulai berkembang. Hal ini mengakibatkan munculnya kelompok-kelompok manusia dalam jumlah yang lebih banyak serta menetap di suatu tempat. Manusia mulai hidup dari hasil bercocok tanam dengan menanam jenis-jenis tanaman yang semula tumbuh liar untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Disamping itu, mereka mulai menjinakkan hewan-hewan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti kuda, anjing, kerbau, sapi, dan babi. Kehidupan bercocok tanam yang pertama kali di kenal manusia adalah berhuma (tekhin bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanamnya, setelah tanah tidak subur mereka pindah dan mencari bagian hutan yang lain.
2. Kehidupan Sosial
            Kehidupan pada masyarakat bercocok tanam mengalami peningkatan yang cukup pesat. Eratnya hubungan antar manusia didalam kelompok masyarakat merupakan cermin manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Kehidupan sosial dalam masyarakat bercocok tanam ini terlihat lebih jelas melalui cara bekerja dengan bergotong royong. Dalam perkembangannya, pada pola hidup menetap telah membuat hubungan sosial masyarakat terjalin dan terorganisasi dengan lebih baik. Dalam perkumpulan masyarakatyang sederhana biasanya terdapat seorang pemimpin yang disebut kepala suku.
3. Kehidupan Ekonomi
            Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya masing masing diadakan pertukaran barang dengan barang ( system barter). Pertukaran barang dengan barang ini awal  muncul system perdagangan atau system perekonomian dalam masyarakat. Dan untuk memperlancar kegiatan perdagangan, dibutuhkan suatu tempat khusus yang dapat dijadikan tempat pertemuan antar pedagang dan pembeli, tempat itu dikenal dengan pasar. Dalam perkembangannya, pola dan bentuk perdagangan serta pasar terus mengalami perubahan dan peningkatan.
4. Sistem Kepercayaan Masyarakat
            Perkembangan system kepercayaan masyarakat pada kehidupan bercocok tanam dan menetap, merupakan kelanjutan kepercayaan yang telah ada sejak pada masa kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan. Inti kepercayaan ini berkembang dari zaman ke zaman. Serta  penghormatan dan pemujaan roh nenek moyangmerupakan suatu kepercayaan yang berkembang di seluruh dunia.
5. kehidupan Budaya
            Perkembangan budaya pada masa bercocok tanam semakin bertambah pesat, Karen manusia mulai dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik.
            Hasil-hasil kebudayaannya adalah :
·        Beliung persegi
·        Kapak lonjong
·        Mata panah
·        Gerabah
6. Perhiasan
          Pada masa kehidupan masayrakat bercocok tanam telah dikenal berbagai bentuk perhiasan. Bahan dasar pembuatan perhiasaan diambil dari bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan alam tempat tinggalnya. Dari bahan-bahan itu masyarakat membuat perhiasan seperti kalung, gelang dan lain lain. Selain perhiasan , pada masa bercocok tanam ini juga berkembang kebudayaan yang terbentuk dari batu batu besar. Bangun-bangunan megalitikum ini dibangun berdasarkan kepercayaan tentang adanya hubunagn antar alam fana dengan alam baka. Wujud bangunan megalitikum diantaranya sebagai berikut        :
·         MENHIR è tugu batu tempat pemujaan roh-roh nenek moyang.
·         WARUGAè kubur batu yang terbentuk kubus dan bulat.
·         DOLMENè meja batu tempat meletakan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang.
·         PUNDEN BERUNDAK-UNDUKè bangunan suci tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang dibut dalam bentuk bertingkat.
·         SARKOFAGUSè peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal).
·          KUBUR BATUè peti jenazah yang terbuat dari baja pipih.
·         ARCAè Arca dari masa megalitikum yang menggambarkan binatang dan manusia.
C. PERKEMBANGAN TEKHNOLOGI MASYARAKAT AWAL INDONESIA
1. Keadaan Alam Lingkungan Kehidupan Manusia
          Pada masa ini, manusia telah mengenal tekhnologi, meski tekhnologi itu masih terbatas pada upaya untuk memenuhi peralatan-peralatan sederhana yang dibutuhkan dalam aktifitas kehidupannya. Ketika manusia sudah mengenal logam, manusia sudah dapat menggunakan peralatan-peralatan dari logam, seperti peralatan rumah tangga, pertanian, perkebunan, dll. Orang yang ahli membuat alat-alat dari logam disebut undagi dan tempat pembuatan alat-alat disebut perundiangan.
            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seiring dengan mulai dikenalnya logam, pola piker dan tekhnologi manusia juga berkembang. Dalam hal ini manusia mulai memanfaatkan alat-alat dari logam untuk membantu upaya memnuhi kebutuhan hidupnya.

2. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat
          Pada masa manusia sudah mengenal logam dikenal dengan masa perundagian. Masa perundagian sangat penting artinya dalam perkembangan sejarah Indonesia, karena paa masa ini terjalin hubungan dengan daerah-daerah sisekitar kepulauan Indonesia. Hubungan ini terjadi karena bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat alat-alat dari logam tersedia secara batas ditempat  tertentu, dan untuk memenuhinya maka di butuhkan proses barter.

3. Kehidupan Budaya Masyarakat
          Peninggalan-peninggalan budaya masyarakat Indonesia yang berasal dari benda-benda logammerupakan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang telah tumbuh dan berkembang pada masa itu. Benda-benda tersebut antara lain        :
·         Neraka Perunggu : suatu benda kebudayaan yang terbuat dari perunggu (bentuknya seperti dandang yang telungkup dan berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk memohon turunnya hujan dan sebagai gendering perang)
·         Kapap Perunggu : bentuk kapak perunggu terbagi menjadi beberapa (ada yang berbentuk pahat, jantung atau tembilang)
·         Bejana Perunggu : bentuknya mirip dengan gitar sepanyol, tetapi tanpa tangkai.
·         Arca Perunggu :bentuknya beraneka ragam, seperti menggambarkan orang yang sedang menari, naik kudadan memegang busur panah.
·         Perhiasan : terbuat dari emas, perunggu dan besi.








D. SISTEM KEPERCAYAAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA   

1. Kepercayaan Terhadap Roh Nenen Moyang
          Orang mulai memiliki suatu pandangan bahwa hidup tidak berhenti setelah orang itu meninggal. Orang yang meninggal dianggap pergi ketempat yang lebih baik. Orang mulai berfikir bahwa orang yang meninggal berbeda dengan orang yang masih hidup.
            Berdasarkan hasil peninggalan budaya sejak masa bercocok tanam berupa bangunan-bangunan megalitikum dengan fungsinya sebagai tempat-tempat pemujaan atau penghormatan kepada roh nenek moyang, maka di ketahui bahwa masyarakat pada masa itu sudah menghormati dan sudah orang yang sudah meninggal.

2. Kepercayaan Bersifat Animisme
          Animism merupakan suatu kepercayaan mesyarakat terhadap suatu benda yang dianggap memiliki roh atau jiwa.

3. Kepercayaan Bersifat Dinamisme
          Dinamisme merupakan suatu kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib.

4. Kepercayaan Bersifat Monoisme
          Kepercayaan monoisme adalah kepercayaan terhadap tuhan yang maha esa.



Baca Selengkapnya...

Selasa, 17 Januari 2012

Keanekaragaman Hayati

     Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah.

     Keanekaragaman hayati melingkupi berbagai perbedaan atau variasi bentuk, penampilan, jumlah, dan sifat-sifat yang terlihat pada berbagai tingkatan, baik tingkatan gen, tingkatan spesies maupun tingkatan ekosistem. Keanekaragaman hayati dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :

1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Gen

Gen atau plasma nuftah adalah substansi kimia yang menentukan sifat keturunan yang terdapat di dalam lokus kromosom. Setiap individu makhluk hidup mempunyai kromosom yang tersusun atas benang-benang pembawa sifat keturunan yang terdapat di dalam inti sel.

Keanekaragaman hayati tingkat gen adalah keanekaragaman hayati yang menunjukan seluruh variasi jumlah dan susunan gen pada makhluk hidup.

Di samping itu, setiap individu memiliki banyak gen, bila terjadi perkawinan atau persilangan antar individu yang karakternya berbeda akan menghasilkan keturunan yang semakin banyak variasinya. Hal inilah yang menyebabkan keanekaragaman gen semakin tinggi.

Contoh keanekaragaman tingkat gen ini adalah tanaman bunga mawar putih dengan bunga mawar merah yang memiliki perbedaan, yaitu berbeda dari segi warna bunga.

2. Keanekaragaman Hayati Tingkat Jenis

Spesies atau jenis memiliki pengertian individu yang mempunyai persamaan secara morfologis, anatomis, fisiologis dan mampu saling kawin dengan sesamanya (inter hibridisasi) yang menghasilkan keturunan yang fertil (subur) untuk melanjutkan generasinya.

Keanekaragaman hayati tingkat jenis adalah keanekaragaman hayati yang menunjukkan seluruh variasi yang terdapat pada makhluk hidup antar jenis.

Contoh keanekaragaman tingkat jenis adalah dalam keluarga kacang-kacangan, kacang tanah, kacang buncis, kacang hijau, kacang kapri, dan lain-lain. Di antara jenis kacang-kacangan tersebut walaupun ditemukan ciri khas yang sama, akan tetapi ukuran tubuh atau batang, kebiasaan hidup, bentuk buah dan biji, serta rasanya berbeda.

3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem

Ekosistem adalah hubungan atau interaksi timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem adalah keanekaragaman hayati yang menunjukan seluruh variasi interaksi antara makhluk hidup dan interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya.

Jadi, antara makhluk hidup dengan lingkungannya akan terjadi interaksi yang dinamis. Perbedaan kondisi komponen abiotik (tidak hidup) pada suatu daerah menyebabkan jenis makhluk hidup (biotik) yang dapat beradaptasi dengan lingkungan tersebut berbeda-beda. Akibatnya, permukaan bumi dengan variasi kondisi komponen abiotik yang tinggi akan menghasilkan keanekaragaman ekosistem.

Ada ekosistem hutan hujan tropis, hutan gugur, padang rumput, padang lumut, gurun pasir, sawah, ladang, air tawar, air payau, laut, dan lain-lain. Suatu perubahan yang terjadi pada komponen-komponen ekosistem ini akan berpengaruh terhadap keseimbangan (homeostatis) ekosistem tersebut. Sebagai suatu sistem, di dalam setiap ekosistem akan terjadi proses yang saling terkait. Misalnya, pengambilan makanan, perpindahan energi atau energetika, daur zat atau materi, dan produktivitas atau hasil keseluruhan ekosistem.

Contoh keanekaragaman hayati tingkat ekosistem adalah pohon kelapa banyak tumbuh di daerah pantai, pohon aren tumbuh di pegunungan, sedangkan pohon palem dan pinang tumbuh dengan baik di daerah dataran rendah.

Baca Selengkapnya...

Selasa, 10 Januari 2012

Hati-Hati Jangan Sering Begadang

AWAS KANKER HATI !!!! Para dokter di NATIONAL TAIWAN Hospital melakukan penemuan terbaru, penyebab utama kerusakan hati adalah tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang. Jangan tidur lewat dari jam 22.00 malam. Karena malam hari pukul 11 s/d dini hari pukul 01 adalah proses Detox dibagian berlangsung dalam kondisi tertidur pulas. Pukul 01 s/d 03 proses Detox dibagian empedu dalam kondisi tidur. Pukul 03 s/d 05 proses Detox paru-paru. pukul 05 s/d 07 proses Detox bagian usus besar, sebaiknya buang air besar. Pukul 07 s/d 09 proses penyerapan gizi bagi usus halus, jadi harus makan pagi
dan bangun terlalu siang mengacaukan Metabolisme tubuh, selain itu dari tengah malam s/d pkl 04 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. So Keep Your Health. :) Baca Selengkapnya...